Sore ini aku belajar akan kesempurnaan yang aku dapati dari karangan "Dewi Lestari" dengan judul "Filosofi Kopi", entah kisah ini memaknai akan kerja keras, untuk mendapati titik sempurna yang nyatanya tak pernah tercapai. Ambisi untuk mendapati sempurna adalah watak untuk seorang yang bernama "Ben" dengan berharap kopi yang memang dia ciptakan tak tertandingi. Ternyata memang selalu ada langit setelah langit, itulah kenapa tidak ada yang sempurna, tanpa Ben sadari masih ada yang lebih enak dari kopi buatannya. Pak Seno si penjual kopi dengan gubuk yang lebih terlihat seadanya dibanding Ben dengan kedai kopi yang begitu tertata rapi, ternyata memiliki kopi yang dapat mengalahkan kopi Ben's Perfecto yaitu Kopi tiwus buatan Pak Seno, yang hanya penjual kopi biasa namun memiliki rasa kopi yang lebih enak saat diminum. Nama tiwus pun diambil dari sepeninggalan putrinya, begitulah Pak Seno manamai kopi racikannya. Sontak Ben yang mengira kopi buatannya adalah kopi sempurna tak tertandingi merasa tak percaya. Tersadar akan kopi buatannya sudah tertandingi oleh kopi buatan Pak Seno, dengan rasa kecewa dia pun harus menerima jika memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku memaknai kisah ini akan sosok Ben yang merasa kopinya sempurna, tertegur hatinya akan sosok Pak Seno pedagang kecil di pelosok desa dapat membuat kopi yang lebih enak dibandingkannya. Percaya memang kata sempurna hanyalah milik Sang Pencipta, walaupun dengan semesta dan seisinya takkan dapat menandinginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar