Indah menatap senja, dengan langit terlihat menguning penuh rona. Cahaya masuk memenuhi ruang kamar, dari setiap celah jendela, terasa hangat seperti memberi pesan perpisahan. Sang surya sudah harus pamit berganti dengan dewi rembulan yang menerangi malam, keduanya indah saling melengkapi bagai dua pasang kekasih. Secangkir minuman yang aku sebut kopi, menemani jari jemari ini merangkai setiap kata, dengan cahaya rona senja menusuk mata. Indah dengan aku padukan suara musik pengiring senja, semakin merasakan kehangatan indahnya senja di dalam kamar dengan wajah menghadap ke langit. Ini adalah nilai rasa syukur kepada sang pencipta. Karenanya aku bisa menikmati langit yang begitu luas tak berujung, matahari yang tak pernah padam seolah memiliki jam, dan angin yang terus berhembus membawa kesejukan. Hidup memang untuk dinikmati, menikmati semua yang telah diberikan, dan menjaga agar tak kehilangan. Aku belajar kepada alam, yang selalu memberi pelajaran akan hidup, bahkan alam yang membuat kita bernafas lega, ketika oksigen yang kita hirup adalah salah satu proses dari hasil fotosintesis. Alam sudah memberikan apa saja yang kita butuhkan, begitulah guna dia diciptakan, hanya saja kita sebagai manusia yang tak pernah menjaga seolah tak membutuhkan. Terlihat mentari mulai meredup terbenam, berpamitan seolah memang memiliki jam pulang, dan bergantian dengan terbit dewi rembulan pengisi malam. Aku titip pesan untuk mentari yang terbenam "Hai sang surya, terima kasih untuk hari ini atas hangatnya sinar yang terpancarkan dan tetaplah terbit terus bersinar hingga terbenam". Aku titipkan juga pesan untuk dewi rembulan "Hai dewi rembulan, cahaya penghias malam yang tak pernah padam, tetaplah bersinar di atap langit bersama taburan bintang yang tak tergantikan" . Aku manusia yang selalu bangga akan keindahan kalian, dua pasang kekasih yang saling bergantian, menyinari dunia dari kegelapan.